Kamis, 05 Januari 2012

Sistem Biaya Standar


SISTEM BIAYA STANDAR

Pengertian
Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu.
Secara umum biaya didefinisikan sebagai sumber daya ekonomis yang dikorbankan untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu, tetapi di dalam suatu pengambilan keputusan yang berbeda.
.
·         Menurut Horngren Foster (2005)
"Biaya sebagai suatu sumber daya yang dikorbankan atau dilepaskan untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu biaya biasanya diukur dalam unit uang yang harus dikeluarkan dalam rangka mendapatkan barang atau jasa."
·         Menurut Mulyadi (2007;387)
"Biaya Standar adalah biaya yang ditentukan dimuka yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu dibawah asumsi kegiatan ekonomi, efisiensi dan faktor-faktor lain tertentu."
·         Menurut Carter Usry (2005;153)
"Biaya Standar adalah biaya yang telah ditentukan sebelumnya untuk memproduksi satu unit atau sejumlah tertentu produk selama satu periode tertentu.
Sistem biaya standar dirancang untuk mengendalikan biaya. Jika biaya standar ditentukan realistis, hal ini akan merangsang pelaksana dalam melaksanakan pekerjaannya dengan efektif, karena telah mengetahui bagaimana pekerjaan seharusnya dilaksanakan dan pada tingkat biaya berapa pekerjaan tersebut seharusnya dilaksanakan. Sistem biaya standar memberikan pedoman kepada manajemen berapa biaya yang seharusnya untuk melaksanakan kegiatan tertentu sehingga memungkinkan mereka melakukan pengurangan biaya dengan cara perbaikan metode produksi, pemilihan tenaga kerja dan kegiatan yang lain.
Sistem biaya standar menyajikan analisis penyimpangan biaya sesungguhnya dan biaya standar.
Prosedur Penentuan Biaya Standar
Dalam prosedur penentuan biaya standar menurut Mulyadi (1991,419) biaya standar tersebut dibagi menjadi tiga bagian yaitu biaya bahan baku standar, biaya tenaga kerja standar, dan biaya overhead pabrik standar.

1.1  Biaya Bahan Baku Standar ( standard raw material cost)
Adalah biaya bahan baku yang seharusnya terjadi untuk membuat satu satuan produk tertentu, yang terdiri dari dua komponen, yaitu :

1.1.1        Harga bahan baku standar (standard raw material price), terdiri atas :
a.       Masukan fisik yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah keluaran fisik tertentu atau lebih dikenal dengan nama kuantitas standar.
b.      Harga persatuan perfisik tersebut, atau disebut pula harga standar yang berupa:
·         Harga yang diperkirakan akan berlaku dimasa yang akan datang.
·         Harga yang berlaku pada saat penyusunan standar.
·         Harga yang diperkirakan akan merupakan harga normal dalam jangka panjang.

1.1.2        Kuantitas bahan baku standar ( standard raw material quantity )
Kuantitas standar bahan baku dapat ditentukan dengan menggunakan :
1.      Penyelidikan teknis
2.      Analisis catatan masa lalu dalam bentuk :
·         Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku untuk produk atau pekerjaan yang sama dalam periode tertentu dimasa lalu.
·         Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku untuk produk dalam pelaksanaan yang paling baik dan yang paling buruk dimasa lalu.
·         Menghitung rata-rata dalam pelaksanaan pekerjaan yang paling baik.

2.2  Biaya Tenaga Kerja standar (Standar direct labor cost)
Adalah biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) yang seharusnya terjadi untuk membuat satu satuan poduk tertentu.Seperti halnya dengan biaya bahan baku standar,biaya tenaga kerja terdiri dari dua unsur : jam tenaga kerja standar dan tarif upah standar.

2.2.1        Jam tenaga kerja standar
Syarat mutlak berlakunya jam tenaga kerja standar adalah :
1.      Tata letak pabrik (plant layout) yang efisien dengan peralatan yang modern sehingga dapat dilakukan produksi yang maksimum dengan biaya yang minimum.
2.      Pengembangan staf perencanaan produksi, routing, scheduling dan dispatching, agar  aliran proses produksi lancar, tanpa terjadi penundaan dan kesimpangsiuran.
3.      Pembelian bahan baku direncanakan dengan baik, sehingga tersedia pada saat dibutuhkan untuk produksi.
4.      Standarisasi  kerja  karyawan  dan  metode – metode  kerja  dengan instruksi – instruksi dan latihan yang cukup bagi karyawan, sehingga proses produksi dapat dilakukan dibawah kondisi yang baik.
Jam tenaga kerja standar dapat ditentukan dengan cara :
1.      Menghitung rata-rata jam kerja yang dikonsumsi dalam suatu pekerjaan dari kartu harga pokok (cost sheet)  periode yang lalu.
2.      Membuat tes-run operasi produksi dibawah keadaan normal yang diharapkan.
3.      Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu dari berbagai kerja karyawan  dibawah keadaan nyata yang diharapkan.
4.      Mengadakan taksiran yang wajar, yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan operasi produksi dan produk.

2.2.2.      Tarif Upah Standar
Penentuan tarif upah standar memerlukan pengetahuan mengenai     kegiatan yang dijalankan, tingkat kecepatan tenaga kerja yang diperlukan dan rata-rata terif upah perjam yang dibayar.

Tarif Upah Standar dapat ditentukan dengan cara :
1.      Perjanjian dengan organisasi karyawan.
2.      Data upah masa lalu, yang dapat dijadikan sebagai upah standar adalah: rata-rata hitung, rata-rata tertimbang atau median dari upah karyawan masa lalu.
3.      Penghitungan tarif upah karyawan masa lalu dalam keadaan operasi normal.

2.3  Biaya Overhead Pabrik Standar (standar overhead rate)
Biaya Overhead Pabrik Standar ini terdiri dari :
1.      Jam (kuantitas) standar
2.      Harga (tarif) standar, terlebih dahulu harus ditetapkan berapa besarnya biaya tetap dan biaya variabel sebagai standar. Standar untuk biaya overhead pabrik menggunakan fleksibel budget.

Analisis   Penyimpangan   Biaya   Sesungguhnya  dari   Biaya  Standar
Menurut Mulyadi (1991,424) penyimpangan  biaya  sesungguhnya dari biaya standar disebut selisih (variance). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis ini diselidiki penyebab terjadinya, untuk kemudian dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang merugikan. Jika dilihat secara umum maka penyebab-penyebab terjadinya selisih adalah sebagai berikut ;
1.      Adanya hari libur nasional yang menyebabkan penambahan waktu jam lembur.
2.      Adanya kerusakan peralatan (mesin-mesin) pada saat produksi sedang banyak.
3.      Adanya kesalahan dalam pembuatan produk sehingga produk perlu diperbaiki dan membutuhkan biaya tambahan lagi.
4.      Adanya keterlambatan penggunaan bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi sehingga menyebabkan banyak waktu menganggur .
5.      Adanya karyawan yang sakit dan digantikan dengan karyawan lain sehingga terjadi penambahan upah lembur.
6.      Ada atau tidaknya pekerjaan lembur.
7.      Karyawan yang baru diterima tidak dibayar sesuai upah lembur.
8.      Adanya kenaikan atau penurunan pangkat yang menyebabkan perubahan tarif upah.
Dalam hal analisis selisih biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja berbeda dengan analisis biaya overhead pabrik, maka analisis penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar ini dibagi dua, yaitu analisis biaya produksi langsung yang terdiri dari biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung dan analisis selisih biaya overhead pabrik.berikut akan dijelaskan mengenai salah satu dari analisis
selisih biaya produksi langsung yaitu selisih biaya tenaga kerja langsung.

Analisis Selisih Biaya Produksi Langsung
Ada tiga model analisis selisih biaya produksi langsung:
1.      Model Satu Selisih (The One-Way Model)
2.      Model Dua Selisih (The Two-Way Model)
3.      Model Tiga Selisih (The Three-Way Model)

Model Satu Selisih (The One-Way Model)
Dalam model ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standard tidak dipecah ke dalam selisih harga dan selisih kuantitas, tetapi hanya ada satu macam selisih yang merupakan gabungan antara selisih harga dengan selisih kuantitas titik. Jadi dalam analisis selisih biaya produksi hanya akan dijumpai tiga selisish: selisish biaya bahan baku, selisish biaya tenaga kerja langsung, dan selisih biaya overhead pabrik. Hasil perhitungan selisih diberi tanda L (selisih laba atau selisih yang menguntungkan) dan tanda R (selisih rugi). Analisis selisih dalam model ini dapat digambarkan dengan rumus berikut ini:

St = (HSt x KSt) – (HS x KS)

dimana:
St = Total selisih
HSt = Harga standard
KSt = Kuantitas standard
HS = Harga sesungguhnya
KS = kuantitas sesungguhnya

Model Dua Selisih (The Two-Way Model)
Dalam model analisis selisih ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standard dipecah menjadi dua macam selisih, yaitu selisih harga dan selisih kuantitas atau efisiensi. Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini:

SH = (HSt – HS) x KS rumus perhitungan selisish harga
SK = (KSt – KS) x HSt rumus perhitungan selisih kuantitas
dimana:
SH = Selisih Harga                       SK = Selisih Kuantitas/Efesiensi
HSt = Harga Standard                  KSt = Kuantitas Standard
HS = Harga Sesungguhnya           KS = Kuantitas Sesungguhnya

Dalam hubungannya dengan biaya bahan baku, analisis selisih biaya bahan baku menjadi selisih harga dan selisih kuantitas ditunjukkan untuk membebankan tanggung jawab terjadinya masing-masing jenis selisih tersebut kepada manajer yang bertanggung jawab. Selisih harga yang timbul menjadi tanggung jawab manajer fungsi pembelian, sedangkan selisih kuantitas menjadi tanggung jawab manajer fungsi produksi.

Contoh 2
PT. X menggunakan system biaya standard. Biaya bahan baku standard per unit produk ditentukan sebesar 100 kg @ Rp 500. Biaya bahan baku sesungguhnya untuk memproduksi 1000 unit produk dalam bulan Januari 19X1 adalah sebanyak 90.000 kg @ Rp 550. Dengan demikian biaya bahan baku standard dan biaya bahan baku sesungguhnya dalam bulan Januari 19X1 disajikan dalam Gambar 13.2.
Jika biaya bahan baku standard dan biaya bahan baku sesungguhnya tersebut dalam Gambar 13.2 digambarkan dalam suatu grafik, maka akan terlihat perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas seperti tercantum dalam Gambar 13.3.
Gambar 13.2
Data Biaya Bahan Baku Standard dan Biaya Bahan Baku Sesungguhnya
                                            Kuantitas                         Harga per kg
                                Standar    Sesungguhnya    Standar   Sesungguhnya
Biaya Bahan Baku       100.000 kg    90.000 kg      Rp 500         Rp 550
Gambar 13.3
Selisih Harga dan Selisih Kuantitas dalam Model Dua Selisih
Selisih Harga
(HSt – HS) x KS
(500 – 550) x 90.000 = Rp 4.500.000 R

HS                                                                  Selisih Kuantitas
Rp 550                                                           (KSt – KS) x HSt
                                                                       (100.000 –  90.000) x 500
                                                                       = Rp 5.000.000 L


 
HSt
Rp 500
                                                                                




 
90.000 Kg          100.000 Kg
      KS                       KSt

Model Tiga Selisih (The Three-Way Model)
Dalam model ini, selisih antara biaya standar dengan baiya sesungguhnya dipecahkan menjadi tiga macam selisih berikut ini: selisih harga, selisih kuantitas, dan selisih harga/kuantitas. Model dua selisih menjadi tidak teliti untuk memisahkan selisih harga dan selisih kuantitas jika harga dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi atau lebih rendah dari harga dan kuantitas sesungguhnya atau jika kuantitas sesungguhnya lebih tinggi dari kuantitas standar, namun sebaliknya harga sesungguhnya lebih rendah dari harga standar.
Hubungan harga dan kuantitas standar dengan harga dan kuantitas sesungguhnya dapat terjadi dengan tiga kemungkinan berikut ini:
1.      Harga dan kuantitas standar masing-masing lebih besar atau lebih kecil dari harga dan kuantitas sesungguhnya
2.      Harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya
3.      Harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya.
Dalam model tiga selisih, rumus perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas tergantung dari jenis hubungan harga dan kuantitas standar dengan harga dan kuantitas sesungguhnya tersebut di atas.
Harga standard dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi atau lebih rendah sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya. Rumus perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi harga standar dan kuantitas standar masing-masing lebih rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut ini:

SH = (HSt – HS) x KSt                   untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt – KS) x HSt                  untuk menghitung selisih kuantitas
SHK = (HSt – HS) x (KSt – KS)   untuk menghitung selisih gabungan yang merupakan selisih harga/kuantitas
Untuk memberikan gambaran perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dengan model tiga selisih dalam kondisi harga standar dan kuantitas standar masing-masing lebih rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya, silahkan mengikuti perhitungan dalam contoh 3.
            Contoh 3
Biaya bahan baku standar dan biaya bahan baku sesungguhnya disajikan dalam Gambar 13.4.
           
Gambar 13.4.
            Data Biaya Bahan Baku Standar dan Biaya Bahan Baku Sesungguhnya

                                            Kuantitas                         Harga per kg
                                Standar    Sesungguhnya    Standar   Sesungguhnya
Biaya Bahan Baku      90.000 kg     100.000 kg      Rp 500         Rp 550

Dari gambar 13.4 tersebut terlihat harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas standar juga lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya. Perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi seperti tersebut dalam gambar 13.4 disajikan dalam gambar 13.5.
Rumus perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi harga standard dan kuantitas harga standar masing-masing lebih tinggi dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut ini:
SH = (HSt – HS) x KS                    untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt – KS) x HS                   untuk menghitung selisih kuantitas
SHK = (HSt – HS) x (KSt – KS)   untuk menghitung selisih gabungan yang merupakan selisih harga/kuantitas
Harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya. Jika harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, maka selisih gabungan yang merupakan selisih harga/kuantitas tidak akan terjadi. Dengan demikian perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model tiga selisih dilakukan dengan rumus berikut ini:
SH = (HSt – HS) x KS                    untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt – KS) x HS                   untuk menghitung selisih kuantitas
            Selisih harga/kuantitas sama dengan nol.
Karena selisih harga/ kuantitas sama dengan nol, maka dengan demikian tidak terdapat selisih biaya yang menjadi tanggung jawab bersama diantara  dua manajer (misalnya manajer fungsi pembelian dan manajer fungsi produksi)
Harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya. Jika harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknnya kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya, selisih gabungan tidak akan terjadi. Dengan demikian perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model tiga selisih dilakukan dengan rumus berikut ini:
SH = (HSt – HS) x KSt                   untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt – KS) x HS                   untuk menghitung selisih kuantitas
            Selisih harga/kuantitas sama dengan nol.
Model tiga selisih menghasilkan informasi selisih yang lebih teliti untuk pertanggungjawaban selisih dibandingkan dengan model dua selisih. Dalam model dua selisih dalam kondisi apapun, selisih harga selalu menggunakan kuantitas sesungguhnya sebagai pengali selisih antara harga per unit standar dengan sesungguhnya. Begitu pula dalam perhitungan selisih kuantitas, dalam kondisi apapun, model dua selisih menggunakan harga per unit standar sebagai pengali selisih antara kuantitas standar dengan kuantitas sesungguhnya.
SH = (HSt – HS) x KS                   
SK = (KSt – KS) x HSt                 
Dalam model tiga selisih, rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dapat dilakukan dengan tiga cara tergantung dari kondisi berikut ini:
1.      Jika harga standard an kuantitas standar masing-masing lebih tinggi atau lebih rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya, model tiga selisih lebih teliti dalam membebankan selisih harga kepada manajer fungsi pembelian dan selisih kuantitas kepada manajer fungsi produksi dibandingkan dengan model dua selisih.
a.       Dalam kondisi harga dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi dibandingkan dengan harga dan kuantitas sesungguhnya, model dua selisih membebankan selisih kuantitas lebih banyak kepada manajer fungsi produksi, karena rumus perhitungan selisih kuantitas adalah (KSt-KS) x HSt, sehingga sebagian selisih harga dibebankan sebagai bagian selisih kuantitas.
b.      Dalam kondisi harga  dan kuantitas standar masing-masing lebih rendah dibandingkan dengan harga dan kuantitas sesungguhnya, model dua selisih membebankan selisih harga lebih banyak kepada manajer fungsi pembelian, karena rumus perhitungan selisih harga adalah (HSt-HS) x KS, sehingga sebagian selisih kuantitas dibebankan sebagai bagian selisih harga.
c.       Model tiga selisih membebankan selisih harga yang memang benar-benar menjadi tanggungjawab manajer fungsi pembelian dan membebankan selisih kuantitas yang benar-benar menjadi tanggungjawab manajer fungsi produksi, karena selisih gabungan yang merupakan selisih harga/kuantitas dipisahkan tersendiri.
2.      Jika harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya, maka perhitungan selisih harga dengan model tiga selisih adalah sebagai berikut:
SH = (HSt - HS) x KS
SK = (KSt - KS) x HSt
SHK = nol
Dalam kondisi harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya, perhitungan selisih harga dan kuantitas dengan model dua selisih dilakukan dengan rumus yang sama dengan yang digunakan dalam model tiga selisih tersebut.
3.      Jika harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas sesungguuhnya, maka perhitungan selisih harga dan kuantitas dengan model tiga selisih adalah sebagai berikut:

SH = (HSt - HS) x KSt
SK = (KSt - KS) x HS
SHK = nol
Dalam model dua selisih, selisih harga dan selisih kuantitas dihitung sebagai berikut:
SH = (HSt - HS) x KS
SK = (KSt - KS) x HSt

Contoh:
PT. Rimendi menggunakan sistem biaya standar. Data biaya standard an data biaya sesungguhnya dalam bulan Januari 19X1 adalah sebagai berikut:
                                    Kuantitas         Kuantitas         Harga              Harga 
Biaya               Standar         Sesungguhya    Standar       Sesungguhnnya
Bahan Baku    4.000 unit        5.000 unit        Rp 20              Rp 15
Tenaga Kerja   1.000 jam        2.000 jam        Rp 10              Rp 20

Perhitungan selisih biaya sesungguhnya dari biaya standar dengna berbagai model tersebut di atas adalah sebagai berikut:

a.      Model Satu Selisih
1.      Selisih biaya bahan baku
(KSt x HSt) – (KS x HS)
(4.000  x Rp 20) – (5.000 x Rp 15) = Rp 5.000 L
2.      Selisih biaya tenaga kerja
(JKSt x TUSt) – (JKS x TUS)
Dimana :
            TUSt   = tarif upah standar
            TUS     = tariff upah sesungguhnya
            JKSt    = jam kerja standar
            JKS     = jam kerja sesungguhnya
(1.000 x Rp 10) – (2.000 x Rp 20) = Rp 30.000 R

b.      Model Dua Selisih
1.      Selisih Biaya Bahan Baku
·         Selisih harga bahan baku
(HSt - HS) x KS
(Rp20 – Rp15) x 5.000 = Rp25.000 L
·         Selisih kkuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HSt
(4.000 – 5.000) x Rp20 = Rp 20.000 R
2.      Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung
·         Selisih tarif upah
(TUSt - TUS) x JKS
(Rp10 – Rp20) x 2.000 = Rp20.000 R
·         Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUSt
(1.0            - 2000) x Rp10 = Rp10.000 R

c.       Model Tiga Selisih
1.      Selisih biaya bahan baku
·         Selisih harga bahan baku
(HSt – HS) x KSt
(Rp20 – Rp15) x 4.000 = Rp20.000 L

·         Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HS
(4.000 – 5.000) x Rp15 = Rp15.000 R
·         Selisih harga/kuantitas bahan baku
Tidak terdapat selisih harga/kuantitas

2.      Selisih biaya tenaga kerja
·         Selisih tarif upah
(TUSt - TUS) x JKSt
(Rp10 – Rp20) x 1.000 = Rp10.000 R
·         Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUSt
(1.000 – 2.000) x Rp10 = Rp10.000 R
·         Selisih tariff/efisiensi upah
(JKSt - JKS) x (TUSt - TUS)
(1.000 – 2.000) x (Rp10 – Rp20) = Rp10.000 R

SELISIH BIAYA OVERHEAD PABRIK
Perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah menggunakan kapasitas normal, sedangkan pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk menggunakan kasitas sesungguhnya yang dicapai. Dalam perusahaan yang menggunakan system biaya standar, analisis selisih biaya overhead pabrik dipengaruhi pula oleh kapasitas standar. Oleh karena itu, ada 4 model analisis selisih biaya overhead pabrik: model satu selisih, model dua selisih, model tiga selisih, dan model empat selisih.

a.      Model Satu Selisih
Dalam model ini, selisih biaya overhead pabrik dihitung dengan cara mengurangi biaya overhead pabrik dengan tarif standar pada kapasitas standar dengan biaya overhead pabrik sesungguhnya.

b.      Model Dua Selisih
selisih biaya overhead pabrik yang dihitung dengan model satu selisih dapat dipecah menjadi dua macam selisih: selisih terkendalikan, dan selisih volume. Selisih terkendalikan adalah perbedaan biaya overhead sesungguhnya dengan biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas standar, sedangkan selisih volume adalah perbedaan antara biaya overhead yang dianggarkan pada jam standar dengan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk (kapasitas standar dengan tarif standar)

c.       Model Tiga Selisih
selisih biaya overhead pabrik yang dihitung dengan model satu selisih dapat dipecah menjadi tiga macam selisih: selisih pengeluaran, selisih kapasitas, dan selisih efisiensi. Selisih pengeluaran adalah perbedaan biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya. Selisih kapasitas adalah perbedaan antara biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik yang pabrik yang dibebankan kepada produk pada kapasitas sesungguhnnya (kapasitas sesungguhnya dengan tarif standar ). Selisih efisiensi adalah tarif biaya overhead pabrik dikalikan dengan selisih antara kapasitas standar dengan kapasitas sesungguhnya.

d.      Model Empat Selisih
Model empat selisih ini merupakan perluasan model tiga selisih. Dalam model ini, selisih efisiensi dalam model tiga selisih dipecah lebih lanjut menjadi dua selisih berikut ini : selisih efisiensi variable dan selisih efisiensi tetap.





Contoh:
Untuk memproduksi 1 satuan produk diperlukan biaya produksi menurut standar disajikan sebagai berikut:
Biaya bahan baku 5 kg @Rp1.000                       Rp    5.000
Biaya tenaga kerja 20 jam @Rp500                            10.000
Biaya overhead pabrik                                              
      Variable 20 jam @Rp400                                        8.000
      Tetap *) 20 jam @Rp300                                         6.000
                  Total                                                    Rp  29.000
Transaksi yang terjadi dalam bulan januari 19X1 adalah sebagai berikut:
1.      Jumlah bahan baku yang dibeli adalah 1500 kg @Rp1.100
2.      Jumlah produk yang diproduksi dan selesai diproses dalam bulan januari 19X1 adalah 250 satuan dengan biaya produksi sesungguhnya sebagai berikut:
a.       Biaya bahan baku 1.050 kg @Rp1.100    = Rp 1.155.000
b.      Biaya tenaga kerja 5.100 jam @Rp475    =       2.422.500
c.       Biaya overhead pabrik                              =       3.650.000
Atas dasar data di atas, berikut ini disajikan analisis selisih biaya produksi langsung dan biaya overhead pabrik:

Biaya Bahan Baku
1.      Model Satu Selisih
(HSt x KSt) – (HS x KS)
(Rp1000  x 1.250) – (Rp1.100 x 1.050) =      Rp 95.000 L

2.      Model Dua Selisih
Selisih harga bahan baku
(HSt - HS) x KS
(Rp1.000 – Rp1.100) x 1.050 kg =                 Rp105.000 R
Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HSt
(1.250 – 1.050) x Rp1.000 =                           Rp200.000 L
Total selisih biaya bahan baku                        Rp  95.000 L

3.      Model Tiga Selisih
Selisih harga bahan baku
(HSt – HS) x KS
(Rp1.000 – Rp1.100) x 1.050 =                      Rp105.000 R
Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HSt       
(1.250 – 1..050) x Rp1.000 =                          Rp200.000 L
Selisih harga/kuantitas bahan baku
Tidak terdapat selisih harga/kuantitas=                      0
Total selisih biaya bahan baku                        Rp  95.000 L

Biaya Tenaga Kerja
1.      Model Satu Selisih
Selisih biaya tenaga kerja
(TUSt x JKSt) – (TUS x JKS)
(Rp500  x 5.000) – (Rp475 x 5.100) =           Rp 77.500 L

2.      Model Dua Selisih
Selisih tarif upah
(TUSt - TUS) x JKS
(Rp500 – Rp475) x 5.100 jam =                     Rp127.500 L
Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUSt
(5.000 – 5.100) x Rp500 =                              Rp  50.000 R
Total selisih biaya tenaga kerja langsung        Rp  77.500 L



3.      Model Tiga Selisih
Selisih tarif upah
(TUSt – TUS) x JKSt
(Rp500 – Rp475) x 5.000jam =                      Rp125.000 L

Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUS   
(5.000 – 5.100) x Rp475 =                              Rp  47.500 R
Selisih harga/kuantitas bahan baku
Tidak terdapat selisih harga/kuantitas=                      0
Total selisih harga/efisiensi upah                     Rp  77.500 L

Selisih Biaya Overhead Pabrik
1.      Model Satu Selisih
Selisih total biaya overhead pabrik                
Biaya overhead pabrik sesungguhnya             Rp3.650.000
Biaya overhead pabrik yang dibebankan:
250 x 20 jam x Rp700 =                                 Rp3.500.000
Selisih total biaya overhead pabrik                 Rp   150.000 R

2.      Model Dua Selisih
Selisih tersebut dipecah menjadi dua macam selisih sebagai berikut:
Selisih terkendalikan
Biaya overhead pabrik sesungguhnya                         Rp3.650.000
Biaya overhead pabrik tetap pada kapasitas normal
            5.200 x Rp300 =                                                 1.560.000
Biaya overhead pabrik variable sesungguhnya           Rp2.090.000
Biaya overhead pabrik variable pada jam standar
            5.000 jam x Rp400 =                                           2.000.000
Selisih terkendalikan                                                   Rp     90.000 R

Selisih volume
Jam tenaga kerja pada kapasitas normal                     5.200 jam
Jam tenaga kerja standar                                             5.000 jam
Selisih volume                                                                200 jam
Tarif biaya overhead pabrik tetap                             Rp300 per jam  x
Selisih volume                                                           Rp60.000 R 

3.      Model Tiga Selisih
Selisih biaya overhead pabrik sebesar Rp150.000 tersebut dapat dipecah menjadi tiga macam selisih berikut ini:
Selisih pengeluaran
Biaya overhead pabrik sesungguhnya                         Rp3.650.000
Biaya overhead pabrik tetap pada kapasitas normal  
            5.200 jam x Rp300 =                                           1.560.000
Biaya overhead pabrik sesungguhnya                         Rp2.090.000
Biaya overhead pabrik variable yang dianggarkan
            Pada jam yang sesungguhnya dicapai
            5.100 jam x Rp400                                               2.040.000
Selisih pengeluaran                                                     Rp     50.000 R

Selisih kapasitas                                 
Kapasitas normal                                 5.200 jam
Kapasitas sesungguhnya                     5.100 jam
Kapasitas yang tidak terpakai                100 jam       
Tarif biaya overhead pabrik tetap     Rp300 per jam   x
Selisih kapasitas                                Rp30.000 R

Selisih efisiensi
Jam standar                                         5.000 jam
Jam sesungguhnya                              5.100 jam
Selisih efisiensi                                       100 jam
Tarif biaya overhead pabrik              Rp700 per jam  x
Selisih efisiensi                                  Rp70.000 R

4.      Model Empat Selisih
Seperti telah disebutkan diatas, model empat selisih ini merupakan perluasan model tiga selisih. Selisih dalam model tiga selisih tersebut dipecah menjadi: selisih efisiensi variable dan selisih efisiensi tetap dalam model empat selisih ini. Selisih biaya overhead pabrik dalam contoh sebesar Rp150.000 R tersebut dipecah menjadi empat macam selisih sebagai berikut:
Selisih pengeluaran                                                                 Rp 50.000 R
Selisih kapasitas                                                                            30.000 R
Selisih efisiensi yang dipecah lebih lanjut menjadi:
            Selisih efisiensi variable 100 jam x Rp400                        40.000 R
            Selisih efisiensi tetap 100 jam x Rp300                            30.000 R
Total selisih biaya overhead pabrik                                         Rp150.000 R
Referensi:
2.      pksm.mercubuana.ac.id/new/.../files.../93004-11-155255308450.doc
4.      Drs. Mulyadi, M.Sc. Akuntansi Biaya. Edisi ke 5. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta: UPP – STIM YKPN, 2009

     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar